Morning RoutineĀ 

Ada sebuah fiksi menarik:

(biasanya “fakta menarik” kan yaa hahha)

Begini:

.

.

Sebut saja tokoh utamanya pemuda bernama Akuradz, dan kali ini hanya di sebut panggilannya saja: Aku šŸ˜Ž.

.

Seminggu terakhir ini Aku punya rutinitas yg agak aneh, berkendara ke tempat kerja sambil menebak-nebak ekspresi apa yg akan ia tampakkan saat pertama bertatap muka nanti. Kadang dia semangat menyambut kedatanganku dengan tawanya, kadang hanya menunduk diam memandang handphone acuh seolah aku tak pernah lewat disitu, di lain waktu ia hanya mengangkat alis dan aku menjawab dengan gesture yang sama, atau sesekali dia begitu semangatnya sampai bercerita ini itu tanpa di minta. Aneh.

.

Wanita yang sedang berhijrah selalu begitu kah?, laki-laki harus terlebih dahulu menebak-nebak sedang di tingkat iman yg mana si perempuan hari ini, baru akhirnya kita bisa mengimbangi caranya berinteraksi, dan repotnya, kita perlu menebak tiap pagi. Ah. Menyebalkan, bukan?.

.

Dan sekian cerita tentang keresaha yang di Alami Akuradz.

.

#eng #ing #eng 

Seni Merespon

Wanita saat bercerita seperti halnya anak kecil, butuh respon yang tepat, Ia akan-sangat-sebal jika kita salah merespon, apa lagi tidak di respon.. pundak kita bakal di pukul tuh. Wahai laki-laki, sesebal apapun kamu saat itu, berusahalah untuk tetap mendengarkan Ia bercerita, tidak hanya mendengar, tetapi juga benar-benar fokus memperhatikan, sesekali respon lah meski hanya dengan “wiiiihh”, “Terus terus?” atau “Yaaaahhh”.

Saat wanita bercerita, mereka jarang sekali tiba-tiba meminta pendapat yang berat-berat, biasanya dia hanya menanyakan hal-hal kecil, untuk memastikan kita masih mengikuti alur cerita yang dia ceritakan.

Jadi, mulai lah belajar untuk menjadi perespon yang baik šŸ™‚

Waktu Pulang

Pukul delapam malam.

Itu waktu yang aku lihat di layar henfonku, waktu dimana angkutan umum yang biasa dia tumpangi sudah tidak lagi berada dipangkalannya. Tapi tidak seperti bulan lalu -atau kapan aku lupa tepatnya, sekarang dia terlihat tenang-tenang saja belum pulang, duduk satu meja denganku, membahas ini itu bersama 2 teman lain. kami ber-4. Ah, jelas saja dia tenang, sebab nanti pulang ada aku yang akan mengantarnya, sampai selasar rumah -biasanya.

Pukul sepuluh lebih empat lima. Di malam yang sama.

Restoran ini masih saja ramai, bahkan makin ramai. Tapi jalanan di depan sudah tidak lagi seramai saat kami masuk ke sini. Sebenarnya ini waktu favorit kami untuk pulang, alasanya sama dengan alasan-alasan orang yang tinggal di Jakarta lainnya: Jalanan sudah tidak lagi macet. Piring bekas makanku sudah di ambil dari tadi oleh pelayan, di meja hanya tinggal ada satu gelas minuman milik dia, yang sesekali aku minum sedikit hanya sekedar ingin tau rasanya.Ā Hmmm, kok enak, lagi ah. aku minum dua kali.Ā Haus. “Ini minum aja lagi”. selalu.

Sepuluh menit kemudian.

“Makasih yaa”, kataku padanya setelah dia membayar semua makananku tadi. Akhirnya kami menyerah oleh rasa kantuk. Meninggalkan muda-mudi lain yang masih bercengkrama di sana, juga ada satu keluarga yang masih bertahan, bersama anak kecil, kurasaĀ masih TK, mungkin orang tua mereka terlalu sibuk disiang hari hingga hanya punya waktu dimalam hari untuk bisaĀ berkumpul bersama anak-anaknya. Tapi lihatlah, mereka terlihat bahagia, semoga mereka punya tawa yang sama di siang hari.

Di perjalanan pulang.

Restoran tadi bukan berada di daerah yang biasa aku lewati. Jadi, saat pulang, lagi-lagi dia jadi navigatornya. Aku selalu buruk dalam hal menghafal jalan. Butuh berkali-kali lewat di jalan yang sama baru aku bisa hafal, pun kadang masih juga salah.

Kira-kira satu setengah jam kemudian, atau munkin kurang.

Motorku memasuki palang perumahan, ada satpam disitu, masuk tanpa menyapa -seperti biasa. Jika sudah sampai disini topik obrolan jadi berubah, tentang perumahan tempat dia tinggal. Tentang orang-orangnya, tentang asal usul daerahnya, tentang indomaretnya, tetang masjidnya, apapun. Kami sudah sampai di depan rumah, tepat disamping rumah ada masjid. “Aku tadi belum sholat isya’ ya?”. Basa-basi sebenarnya. “Belum. Sholat aja di masjid, gak pernah di kunci kok gerbangnya”, katanya. “Yaudah deh, sekali-sekali”, kataku setuju.

Pukul 2 dini hari, di masjid yang sama, masih dengan orang yang sama.

Ah, tidak terasa sudah hampir 3 jamĀ aku disini. mengobrol ini-itu dengan dia. Tapi kali ini aku lebih banya mendengarkan, juga banyak belajar. Aku berkali-kali bilang “Tidur gih”, tapi tanpa sambil berdiri, jadi kami masih saja tetap disitu. dan saat-entah yang keberapa-aku bilang begitu lagi, dia protes: “nyuruh tidur tapi gak berdiri-berdiri”. hahahha. aku langsung berdiri.

Setengah jam kemudian.

Aku sampai di kontrakanku. langsung tidur. ini sudah setengah tiga, enam setengah jam lagi aku harus masuk kantor. bertemu dengan orang yang sama, dan bisa jadi akan mengulang siklus yang sama.

Pukul delapan malam………….


Aku pernah bilang ke #uhuk m-a-n-t-a-n, bahwa pemberian yang paling berharga adalah waktu, jika ada orang yang rela memberikan waktunya untukmu, jangan siakan.

Klarifikasi: aku dan dia bukan ada apa-apa, hanya teman -biasa. Cuma lagi pengen nulis ngasal aja. Juga ngeluarin uneg-uneg karena pulang malam mulu :’D.

~ Pasar Minggu, 8 November 2016

Semua tentang pikiran randomku

Jika tiba-tiba pikiranku liar, lalu tak tahu jalan pulang, maka jemput aku di sini, ditempat aku mampir saat aku tiba-tiba hilang, sebab pikiran terkadang acak. 

Silahkan jika kau menyebut ini sampah, silahkan, karena aku tidak pernah menyebut ini berlian.